Yoauth and adolescence

Faktor penyebab rendahnya kompetensi sosial

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Mussen tahun 1983, menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya kompetensi sosial remaja, yaitu: a) faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari diri sendiri, seperti kurangnya komitmen, tertutup terhadap perasaan dan emosinya, kesulitan berkomunikasi, faktor biologis dan faktor disposisi (temperamen); dan b) faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar dirinya, seperti status sosial dan ekonomi, kelompok teman sebaya, pola asuh orang tua dan gaya interaksi sosial. Penelitian yang ditemukan Mussen (1983) memberikan pengaruh secara langsung baik banyak maupun sedikit terhadap rendahnya kompetensi sosial.

Remaja cenderung berinteraksi dengan orang lain karena adanya persamaan dalam beberapa aspek, seperti variabel demografi (faktor usia, jenis kelamin, ras, dan status sosial-ekonomi), reputasi (popularitas dan pencapaian prestasi akademik), kepribadian, aktivitas, kepercayaan, dan sikap ( Hartup, 1996a: 5). Kesamaan dalam berinteraksi ini diperkuat oleh tiga alasan. Pertama, hal ini melibatkan validasi konsensual. Kedua, hal ini melibatkan persahabatan karena kesamaan aktivitas yang dilakukan. Ketiga, hal ini dapat mengurangi ketidakcocokan atau konflik dan meningkatkan kesempatan untuk sebuah kesepakatan.

Faktor lain yang turut mempengaruhi rendahnya kompetensi sosial adalah kurangnya daya tarik sosial. Remaja yang tidak memiliki daya tarik sosial akan bertindak dengan cara yang tidak memiliki tata karma, pada orang lain yang dihadapinya (Dorn, dalam Agus Taufik, 2008: 306-307). Menurut penelitian Johnson Matross dan Patton (Agus Taufik, 2008: 307) memiliki pandangan yang sama, bahwa daya tarik sosial yang ada pada seseorang merupakan bahan yang penting untuk dapat mempengaruhi sikap orang lain yang tertarik padanya. Dengan demikian mereka mengajukan suatu rumusan hipotetik, bahwa remaja yang disenangi oleh orang lain lebih dapat mempengaruhi daripada yang tidak disenangi.

Selain itu, pendapat lain dikemukakan Adam (1983) menyimpulkan tiga faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kompetensi sosial, yaitu : a) pengetahuan tentang keadaan emosi yang tepat untuk situasi sosial tertentu (pengetahuan sosial), b) kemampuan untuk berempati dengan orang lain (empati), dan c) percaya pada kekuatan diri sendiri (locus of control).

Sedangkan La Fontana dan Cillesen (2002) menuliskan bahwa kompetensi sosial dapat dilihat sebagai perilaku prososial, altruistik, dan dapat bekerja sama. Penelitiannya menegaskan bahawa remaja yang sangat disukai dan yang dinilai berkompetensi sosial oleh orang tua dan guru-guru pada umumnya mampu mengatasi kemarahan dengan baik, mampu merespon secara langsung, melakukan cara-cara yang dapat meminimalisasi konflik yang lebih jauh dan mampu mempertahankan hubungannya (Fabes dan Eisenberg dalam Papalia dkk, 2002).

Dalam masyarakat anak dipandang berkompeten secara sosial jika perilaku mereka lebih bertanggung jawab, mandiri atau tidak bergantung, mampu bekerjasama, perilakunya bertujuan, dan bukan yang serampangan, serta mempunyai kontrol diri atau tidak impulsif sedangkan anak tidak kompeten jika perilakunya yang seenaknya, tidak ramah, oposan. (Baumrind dalam Pertiwi, 1999). Selanjutnya Braumind (Garmezy dkk., 1997) mengemukakan bahwa kompetensi sosial terdiri dari mood positif yang menetap, harga diri, physical fitnes, tanggung jawab sosial yang mencakup kemampuan untuk berinteraksi dengan orang dewasa, perilaku menolong terhadap teman sebaya, dan kematangan moral, cognitif agency yang mencakup kognisi sosial, orientasi terhadap prestasi, internal locus of control yang mencakup sikap egaliterian terhadap orang dewasa, sikap kepemimpinan terhadap teman sebaya, perilaku yang berorientasi pada tujuan dan gigih. Sementara itu White (1997) mengemukakan pendapat yang tidak jauh berbeda bahwa aspek kompetensi sosial yaitu memperlihatkan sosial, simpati, penghargaan, tolong-menolong dan cinta. Kompetensi emosi yang terdiri atas aspek ekspresi emosi, pengetahuan emosi, dan regulasi emosi juga memberikan kontribusi pada kompetensi sosial (Denham dkk, 2003).

Penelitian David Elkind (dalam Patmonodewo, 2003) menjelaskan concept of competent bahwa kompetensi dipengaruhi oleh kondisi sosial seperti meningkatnya perceraian orang tua, meningkatnya pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua tunggal, dan kedua orang tua yang bekerja. Lebih lanjut menurut Elkind anak yang kompeten dapat mengatasi perpisahan dengan orang tua, pada usia awal perkembangan sekalipun. Anak mampu menyesuaikan diri dengan orang lain sebagai pengasuhnya, seperti tempat penitipan anak dan sarana lain yang masih baru baginya.

Rujukan Buku :

  • Adam, G., R., 1983. Social Competence During Adolescence: Social Sensitivity, Locus Of Control, And Peer Popularity. Journal Of Yoauth And Adolescence. Vol. 12, No 03, 203-211.
  • Denham, S., A., & Queenan, P., 2003. Preschool Emotional Competence: Pathway To Social Competence. Journal Of Child Development. Vol. 74, No 1, 238-256.
  • Pertiwi, R,., R., 1999. Persepsi Terhadap Suasana Keluarga Dan Kompetensi Sosial Pra- Remaja. Skripsi. (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  • Rydell, A., M., Hagekull, B., & Bohlin, G., 1997. Measurement Of Two Social Competence Aspect In Middle Childhood. Journal Of Development Psychology. Vol. 33, No 05, 824- 833. Amirican Psychological Association.
  • Papalia, D., E., Olds, S., W., & Feldman, R., D., 2002. A Chlid's World, Infancy Through Adolescence. Ninth Edition. New York, USA: Mcgraw- Hill Companies, Inc. http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=1311486

Please be aware that the free essay that you were just reading was not written by us. This essay, and all of the others available to view on the website, were provided to us by students in exchange for services that we offer. This relationship helps our students to get an even better deal while also contributing to the biggest free essay resource in the UK!