Peran pendidikan tinggi pelaksanaan ujian nasiona

Ujian Nasional merupakan salah satu jenis penilaian yang diselenggarakan pemerintah guna mengukur keberhasilan belajar siswa. Dalam beberapa tahun ini, kehadirannya menjadi perdebatan dan kontroversi di masyarakat. Di satu pihak ada yang setuju, karena dianggap dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dengan adanya ujian nasional, sekolah dan guru akan dipacu untuk dapat memberikan pelayanan sebaik-baiknya agar para siswa dapat mengikuti ujian dan memperoleh hasil ujian yang sebaik-baiknya. Demikian juga siswa didorong untuk belajar secara sungguh-sungguh agar dia bisa lulus dengan hasil yang sebaik-baiknya. Sementara, di pihak lain juga tidak sedikit yang merasa tidak setuju bahkan berpendapat sebaiknya Ujian nasional dihapuskan saja (Rachman, Arief., 2008) karena menganggap bahwa Ujian Nasional sebagai sesuatu yang sangat kontradiktif dan kontraproduktif dengan semangat reformasi pembelajaran yang sedang kita kembangkan.

Apabila menengok kembali sejarah ujian akhir siswa sekolah di Indonesia akan terlihat bahwa pola baku sistem ujian akhir untuk siswa seringkali berubah seiring dengan pergantian pejabat. Hampir setiap ganti pejabat, kebijakan sistem juga ikut berganti rupa.

Pada periode 1950-1960-an, ujian akhir disebut Ujian Penghabisan. Ujian Penghabisan diadakan secara nasional dan seluruh soal dibuat Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Seluruh soal dalam bentuk esai. Hasil ujian tidak diperiksa di sekolah tempat ujian, tetapi di pusat rayon.

Periode 1965-1971, semua mata pelajaran diujikan dalam kegiatan yang disebut ujian negara. Bahan ujian dibuat oleh pemerintah pusat dan berlaku untuk seluruh wilayah di Indonesia. Waktu ujian juga ditentukan oleh pemerintah pusat.

Periode 1972-1979, pemerintah memberi kebebasan setiap sekolah atau sekelompok sekolah menyelenggarakan ujian sendiri. Pembuatan soal dan proses penilaian dilakukan masing-masing sekolah atau kelompok. Pemerintah hanya menyusun pedoman dan panduan yang bersifat umum.

Periode 1980-2001, mulai diselenggarakan ujian akhir nasional yang disebut Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Model ujian akhir ini menggunakan dua bentuk: Ebtanas untuk mata pelajaran pokok, sedangkan EBTA untuk mata pelajaran non-Ebtanas. Ebtanas dikoordinasi pemerintah pusat dan EBTA dikoordinasi pemerintah provinsi.

Kelulusan ditentukan oleh kombinasi dua evaluasi tadi ditambah nilai ujian harian yang tertera di buku rapor. Dalam Ebtanas siswa dinyatakan lulus jika nilai rata-rata seluruh mata pelajaran yang diujikan dalam Ebtanas adalah enam, meski terdapat satu atau beberapa mata pelajaran bernilai di bawah tiga.

Pada 2002-2004, Ebtanas diganti dengan penilaian hasil belajar secara nasional dan berubah menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN) sejak 2002. Kelulusan dalam UAN 2002 ditentukan oleh nilai mata pelajaran secara individual.

Pada periode 2004 - sekarang hasil penilaian belajar secara nasional disebut Ujian Nasional (UN). Ujian nasional yang dikembangkan saat ini dilaksanakan melalui tes tertulis. Soal-soal yang dikembangkan cenderung mengukur kemampuan aspek kognitif. Banyak pakar berpendapat bahwa hal ini diperkirakan akan berdampak terhadap proses pembelajaran yang dikembangkan di sekolah. Sangat mungkin, para guru akan terjebak lagi pada model-model pembelajaran gaya lama yang lebih menekankan usaha untuk pencapaian kemampuan kognitif siswa, melalui gaya pembelajaran tekstual dan behavioristik.

Selain itu, Ujian Nasional sering dimanfaatkan untuk kepentingan diluar pendidikan, seperti kepentingan politik dari para pemegang kebijakan pendidikan atau kepentingan ekonomi bagi segelintir orang. Oleh karena itu, tidak heran dalam pelaksanaannya banyak ditemukan kejanggalan-kejanggalan, seperti kasus kebocoran soal, nyontek yang sistemik dan disengaja, merekayasa hasil pekerjaan siswa dan bentuk-bentuk kecurangan lainnya.

Bagaimana peran pendidikan tinggi dalam pelaksanaan ujian nasional ?

Perguruan tinggi dapat berperan dalam upaya pengembangan asesmen yang tidak hanya mengukur kemampuan kognitif saja, tetapi juga mengukur kemampuan lainnya. Hal ini menjadi penting, karena banyak orang yang menuntut penghapusan ujian nasional tetapi tidak memberikan solusi yang tepat Asesmen Multi Kecerdasan dari Gardner dapat dikembangkan oleh Perguruan Tinggi. Menurut Howard Gardner (1983), pencetus Multiple Inteligen, aspek kognitif itu hanya sebagian kecil dari aspek-aspek yang yain yang tidak kalah pentingnya untuk dikembangkan. Dalam bukunya yang berjudul Frame of Mind, Gardner menyebutkan ada sembilan kecerdasan yang dapat dikembangkan, yaitu, kecerdasan liguistik yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini suka membaca, menulis, bercerita, bermain kata dan menjelaskan. Biasanya mereka berhasil dalam bidang pemberitaan, jurnalistik, berpidato, debat, percakapan dan lain-lain. Ada pula yang disebut kecerdasan logis atau matematis yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini suka bereksperimen, bertanya, memecahkan teka-teki dan berhitung. Biasanya mereka berhasil dalam bidang matematika, akutansi, program komputer, perbankan dan lain-lain.

Sementara, kecerdasan spatial atau visual yaitu murid yang memiliki kecenderungan kecerdasan ini senang mendisain, menggambar, membuat sketsa, menvisualisasikan. Bidang yang dapat mereka kuasai dengan baik antara lain membuat peta, fotografi, melukis, desain rencang bangun dan lain- lain. Sedangkan kecerdasan body atau kenestetik yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini suka menari, berlari, membangun, menyentuh, bergerak dan kegiatan fisik lainnya. Biasanya mereka akan cemerlang dalam olah raga,seni tari, seni pahat, dan sebagainya.

Kecerdasan Musical adalah murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini gemar menyanyi, bersiul, bersenandung, menghentak-hentakkan kaki atau tangan, mendengar bunyi-bunyian. Murid yang mempunyai kecenderungan ini akan sukses dalam bernyanyi, menggubah lagu, memainkan alat musik dan lain-lain. Ada juga yang disebut kecerdasan interpersonal yaitu murid yang memiliki cenderung pada kecerdasan ini suka memimpin, mengatur, menghubungkan, bekerja sama, berpesta dan lain-lain. Pada umumnya mereka berhasil dalam pekerjaan guru, pekerja sosial, pemimpin kelompok, organisasi, politik.

Ada pula yang dikenal dengan sebutan kecerdasan intrapersonal yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini suka mengkhayal, berdiam diri, merencanakan, menetapkan tujuan, refleksi. Biasanya mereka cemerlang dalam filsafat, menulis penelitian dan sebagainya. Sedangkan, kecerdasan natural yaitu murid yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan ini senang berjalan, berkemah, berhubungan dengan alam terbuka, tumbuh-tumbuhan, hewan. Bidang yang dapat mereka kuasai dengan baik adalah botani, lingkungan hidup, kedokteran dan lain-lain.Dikenal pula sebutan kecerdasaneEksistensialis yaitu murid yang memiliki kecenderungan kecerdasan ini biasanya suka berfilsafat, suka agama, kebudayaan dan isu-isu sosial. Pada umumnya mereka berhasil dalam bidang keagamaan dan psikologi.

Dengan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing perguruan tinggi, harus didorong alternatif asesmen yang akan dipakai untuk menguji kecerdasan siswa dari mulai tingkat sekolah dasar dan menengah. Sehingga tidak ada siswa yang dirugikan.

Peran lain yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi adalah usulan desentralisasi ujian nasional yang dilakukan oleh sekolah dengan supervisi dari perguruan tinggi. Dengan demikian hasil ujian nasional siswa SMA/SMK dapat digunakan sebagai sebagai pertimbangan seleksi masuk. Dengan demikian perguruan tinggi dapat membantuk tim kerja UN, menentukan penanggung jawab lokasi, dan pengawas ruangan ujian yang berkoordinasi dengan pemerintah kota/kabupaten, serta menjamin obyektivitas dan kredibilitas pelaksanaan UN di wilayah masing-masing (Kompas, 7 Januari 2010). Jika hasil UN bisa diakui perguruan tinggi, seleksi masuk PTN bisa diarahkan untuk tes potensi akademik atau kemampuan skolastik calon siswa.

Daftar Referensi

  • Anonim. (2005). Ujian Penghabisan, Ebtanas, UAN, Lalu Apa lagi...? Online. http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/09/nas21.htm. Diakses tanggal 5 Februari 2010
  • Gardner. (1983). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intellignces. NY:Basic Books.
  • Kompas. (2009). Libatkan Perguruan Tinggi di UN SMA/MA. Rabu, 7 Januari 2009 (Online) http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/07/01041088/libatkan.perguruan.tinggi.di.un.sma/ma. Diakses tanggal 5 Februari 2010
  • Rachman, Arief (2008) Ujian Nasional Harus Dihapuskan. Online. http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/02/27/brk,20080227-118184,id.hmll. Diakses tanggal 5 Februari 20010

Please be aware that the free essay that you were just reading was not written by us. This essay, and all of the others available to view on the website, were provided to us by students in exchange for services that we offer. This relationship helps our students to get an even better deal while also contributing to the biggest free essay resource in the UK!